Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Malaka: Sebuah warisan sejarah

Ketika menyebut nama Malaka otomatis otak kita berputar dan menyebut beberapa kata yang terhubung dengannya. Pelabuhan, sejarah, nama kota, Malaysia, Tan Malaka? dan lain sebagainya. Malaka sendiri apabila kita melihat ke dalam sejarahnya merupakan desa nelayan yang ditemukan oleh seorang pangeran dari Sumatera. Oleh pangeran tersebut, Malaka dibuka dan dibangun menjadi pelabuhan penghubung antara China dan India. Dan pada masanya, bersama dengan Pulau Pinang (Penang) dan Tumasik (Singapore), Malaka menjadi jalur perdagangan yang sangat penting. Letaknya yang sangat strategis sejak awal menjadikannya tempat bertumpah darah. Setelah era Majapahit, kolonialisme Portugis, Belanda dan Inggris saling bergantian dan saling memberikan cirinya masing-masing.

The Clock Tower of Melaka
Sejak tahun 2008 Malaka masuk ke dalam UNESCO's World Heritage karena berhasil melestarikan bangunan-bangunan jaman kolonial dan tetap berdiri dan tertata apik sampai saat ini.

Berkunjung ke Malaka tidak memerlukan waktu lama, one-day-trip sudah cukup mengingat dari ujung ke ujung bisa di lakukan dengan berjalan kaki, namun demikian becak berwarna-warni juga siap menemani apabila kita malas berjalan kaki (seperti de javu). Bangunan di Melaka sangat eye-catching karena berwarna serupa merah marun dan mencolok. 

Bagi pecinta sejarah, Malaka merupakan salah satu yang wajib kunjung, semua bangunan terkondisi dan tertata dengan baik, dan jauh dari kesan kumuh. Bangunan-bangunan tersebut saat ini dijadikan museum, tempat ibadah, kedai makan, penginapan, dan sebagainya, namun demikian bentuk bangunan tidak ada yang berubah.

Flor de la Mar Replica as Maritime Museum
Titik paling menarik disini adalah semacam plaza atau alun-alun dimana terdapat Clock Tower berhiaskan air mancur dan dikelilingi oleh gereja yang masih di fungsikan dengan baik. Akan tetapi titik ini bukan awal dari perjalanan sehari menjelajahi jaman kolonialisme di era sekarang. Titik awal yang bisa di pakai adalah persimpangan Discovery dimana di sebelah kanan terdapat kanal yang langsung menuju ke Selat Malaka, apabila kita terus menyusuri kanal ini, kita akan tahu betapa pentingnya kanal ini bagi Malaka. Karena selain sebagai jalannya air dan pencegah banjir, kanal ini juga di fungsikan sebagai jalan bagi wisata berkeliling menggunakan kapal yang akan singgah di tiap halte yang ada. 

Setelah melewati jalanan berhias bangunan bergaya art-deco di kanan dan kiri, kita akan langsung menuju plaza tersebut. Flyer dan panduan yang disediakan secara cuma-cuma akan menggiring kita menaiki sebuah bukit berisi aneka museum dan reruntuhan gereja yang sangat terkenal yaitu St. Paul. Dari reruntuhan gereja ini kita bisa memandang dan melihat situasi Selat Malaka dan kota Malaka itu sendiri. Tidak ada lokasi yang luput disini karena setiap inchi tanah sepertinya sudah dikemas apik dan sangat menjual, bahkan untuk sebuah kuburan pun. Kita seharusnya iri dengan pengemasan ini.

Reruntuhan St. Paul
Setelah lelah berkeliling, aneka makanan siap mengisi perut di foodcourt yang terletak di bawah bukit. Aneka hidangan mulai dari melayu, arab, tradisional sampai ke western internasional semua ada. Selain itu kita bisa melakukan sholat di mushola yang pada jaman dahulu merupakan cikal bakal berkembangnya Islam disana.

Saya sendiri paling berkesan dengan replika kapal Flor de la Mar yang dijadikan sebagai Museum Maritim. Melihat dari kejauhan saja sudah membayangkan cerita tersendiri, apalagi saat memasuki bagian kapalnya, kita akan diajak berkeliling mulai dari ujung kapal ke bagian lainnya dimana disana diceritakan sejarah bagian per bagian lengkap dengan mitos, legenda, fakta dan pengejawantahannya pada masa kini. Sungguh, kita berada di dalam replika kapal yang cukup di kenal pada masanya.

Bagi pecinta rempah, Malaka juga menyediakan toko-toko yang menjual aneka macam rempah yang bahkan di Indonesia saya belum pernah melihat ada tempat yang selengkap ini. Bisa jadi ini sebagai penekan dan penanda bahwa Malaka memiliki peranan penting dalam perdagangan rempah-rempah.

Malaka, satu lagi contoh bagi Indonesia bagaimana mengelola bangunan sejarah dan mengemasnya menjadi jualan yang ciamik.

Read Users' Comments (0)

Yehliu Geopark: Taman kapur beraneka rupa

Dinginnya pagi di bulan desember tak menyurutkan niat untuk pergi menikmati secuil keindahan pulau formosa. Kali ini kami pergi ke Yehliu Geopark, dimana batuan kapur membentuk suatu gugusan dan bentuk lain seperti mushroom, queen's head, sea candles dan sebagainya. Batuan kapur ini terbentuk sebagai akibat erosi samudera pasifik yang berarus deras dan mematikan, dan pergerakan lempeng bumi dimana pulau formosa sendiri masuk ke dalam cincin api. Sayangnya, banyak bentuk-bentuk yang cantik ini akan terus tergerus erosi dan terus bergeraknya lempengan bumi sehingga beberapa tahun ke depan dikhawatirkan akan memiliki bentuk yang lain.

Yehliu sendiri berasal dari bahasa Pinpu, bahasa aborigin Taiwan, dan bahasa Spanyol "Punto Diablos" yang berarti Tanjung Setan. Namun demikian ada suatu cerita kenapa tempat tersebut dinamakan Yehliu, pada jaman dahulu warga sekitar merupakan nelayan yang hidup di laut, mungkin sama dengan orang Bajo di Indonesia dan mendapatkan beras dari penduduk pulau. Uniknya pengambilan beras dilakukan dengan menggunakan bilah bambu yang sudah dilubangi bagian ujungnya, para pedagang pada akhirnya menyebut proses ini sebagai "beras yang di curi oleh suku asing" dimana "suku asing" berarti Yeh, dan "dicuri" berarti Liu dalam bahasa Taiwan.

Mushroom Rock
Perjalanan dari tempat kami menginap di Taoyuan menuju lokasi berhias tebing dan jurang yang saling bergantian dengan hutan yang tidak rapat. Perjalanan sekitar satu setengah jam tak terasa dengan jalanan mulus dan sikap para pengemudi yang luar biasa tertib, bahkan saat terjadi kemacetan pun tidak ada yang berusaha mendahului. Setelah melewati pinggiran Taipei kami keluar dan melewati Keelung (Jilong/Chilung) dimana terdapat pelabuhan ekspor terbesar ke-dua di Taiwan.

Untuk masuk ke Yehliu Geopark, kami membeli karcis seharga NT50 (New Taiwan Dollar) dan buka mulai dari jam 8 pagi sampai dengan jam 5 sore. Lokasi ini secara garis besar dibagi menjadi tiga bagian, bagian pertama yaitu lokasi dimana mushroom rocks berada. Di lokasi ini kita bisa melihat proses alam batuan kapur ini terbentuk menjadi sesuatu, dari yang hanya batuan berlubang kecil, menjadi lebih berbentuk sesuatu hingga sampai menyerupai jamur.

The Queen's Head
Area kedua sebenarnya mirip dengan yang pertama, hanya saja disini kita bisa melihat bentuk batuan kapur ini yang tadinya menyerupai jamur berubah menjadi bentuk aneh lainnya, dan yang sangat terkenal adalah Queen's Head. Tidak mudah untuk mengabadikan bentuk ini, hampir semua orang berebut ingin berfoto disana, untung saja jembatan kayu yang kami lewati mampu menahan banyaknya kumpulan orang yang rela antre hingga hitungan menit untuk mengabadikan momen tersebut.

Area ketiga adalah area paling ujung dari komplek ini dan merupakan area paling luas dimana kita dipandu menggunakan jalanan kayu dari satu titik ke titik lainnya. Disini kita bisa melihat proses erosi laut karena letak tanah jauh lebih tinggi dari yang sebelumnya.

Komplek ini sangat dekat dengan pantai curam berbatu yang seringkali ombak besar menghantam, di beberapa titik sangat licin sehingga perlu kehati-hatian dari pengunjung supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Pernah ada salah satu anak sekolah yang hilang di telan ombak saat mengadaan wisata sekolah dan jasadnya tidak ditemukan sampai sekarang. Orang tuanya kemudian membangun sebuah tugu peringatan di sini untuk mengenangnya dan sebagai peringatan bagi kita semua.

Yehliu Geopark sangat dikenal bagi para pecinta geologi dan wisatawan baik asing maupun lokal. Melihat bentuknya yang sangat tidak biasa pasti memberikan kesan yang dalam bagi kita setelah berkunjung kesana dan mengucap syukur akan keagungan Yang Maha Esa.

Read Users' Comments (0)

Minggu Pagi di Victoria Park*)

Causeway Bay Area
Bagaimana menjadi pekerja migran di Hong Kong? "Senin sampai sabtu kita jadi babu, minggu kita jadi Ratu Sehari" demikian salah seorang tenaga migran Indonesia berceloteh dengan riangnya sambil menikmati sambel yang sepertinya cukup pedas sampai membuat buliran keringat di muka cemongnya. Minggu ini bertepatan dengan Idul Adha, Victoria Park berubah menjadi lautan warna putih mbak-mbak menunaikan sholat Ied. 

Bagi pekerja migran Indonesia, Victoria Park merupakan area wajib kunjung di hari libur yang kebanyakan jatuh pada hari minggu. Sama seperti Statue Square di Central bagi pekerja migran Philippina. Setiap hari minggu mereka akan berkumpul, sesuai dengan daerah asalnya, kenalannya, atau kerabatnya. Mereka sering membawa masakan sendiri dari rumah yang merupakan masakan tanah air. Apalagi kalau salah satu pekerja migran tersebut habis pulang dari tanah air membawa makanan khas, yang ada jadi arena rebutan. Kalaupun mereka tidak masak masakan tanah air, di jalanan sepanjang Victoria Park akan sangat mudah di jumpai kedai makanan yang menyediakan masakan Indonesia. 

Area Victoria Park di hari minggu berubah layaknya kawasan Monas. Mbak-mbak berkumpul sambil menikmati hidangan yang mereka bawa, celotehan ringan dan riang keluar dari mulut mereka, saling teriak senang dan tertawa. Hari minggu itu juga menjadi arena bagi mereka yang baru mendapatkan gaji untuk saling mentraktir, mengadakan pesta kecil serta membelikan hadiah bagi yang berulang tahun, membeli gadget terbaru dan saling memamerkannya. Tak jarang kita dengar celotehan khas sambil tertawa atau menangis saat mereka menelepon kerabat di tanah air. 
Indonesian Domestic Helpers

Hari minggu itu saya janjian dengan teman-teman sekampung, saat bertemu bungah rasanya, ketemu dengan teman sewaktu sekolah dahulu namun dengan kondisi yang berbeda. Hari itu mereka di undang untuk berkumpul di rumah salah satu teman untuk merayakan Idul Adha, namun dengan berat hati saya menolak dengan alasan sempitnya waktu. 

Bersama dengan Eni dan Widhi, saya kemudian di ajak makan di kedai yang menyediakan Korean Cuisine. Sebelumnya saya di ajak berkeliling taman dari sudut ke sudut, kebetulan ada bazzar tanah air juga yang menyediakan aneka hal yang berhubungan dengan tanah air. Disini juga saya di tunjukkan lokasi berkumpulnya para Pasangan Lesbian yang luar biasa banyaknya.

Sebagai informasi, Pasangan Lesbian ini biasanya muncul dengan gaya a la Harajuku, bagi yang "pria" akan bergaya dengan rambut pendek semir pirang atau warna ngejreng lainnya, celana jins belel dan sepatu keds dengan jalan layaknya lelaki, bahu diangkat dan langkah kaki yang panjang. Sedangkan bagi "wanita" tidak jauh berbeda dengan perempuan pada umumnya hanya saja mereka memakai baju dominan hitam dan dandanan gothic. Mereka dengan santai akan saling rangkul sambil berjalan atau bahkan berciuman di bawah pohon.

Informasi lain mengatakan bahwa banyak dari mereka sudah menikah dan dirayakan dengan mewah juga. Kebebasan Hong Kong sepertinya memberikan angin segar bagi mereka. Bahkan ada yang bilang, disini di Hong Kong bisa di bagi menjadi tiga, yang pertama adalah Pasangan Lesbian, yang kedua pacaran dengan orang Pakistan, dan yang ketiga tetap ndeso karena tidak laku. Memang semua itu adalah sebuah pilihan. Benar tidaknya siapa yang tahu. Menjadi pekerja migran di Hong Kong memang mendapat jaminan penuh dari pemerintahnya.

Widhi, Saya, dan Eni di Minggu Pagi di Victoria Park
Setelah selesai berkeliling taman dan melewati ribuan pekerja migran yang saling berdesak-desakan di jalanan sekitar Causeway Bay, sampai juga kami di sebuah kedai makan yang menyediakan makanan korea. Bagi Eni dan Widhi, dan tentu saja pekerja migran lainnya, hari minggu atau hari libur lainnya mereka habiskan dengan menyenangkan diri sendiri, seperti yang dibilang di atas, menjadi Ratu Sehari. Mereka luangkan waktunya sehari penuh dengan berkumpul bersama bertemu dengan yang lainnya, makan di tempat yang tidak biasa, menghabiskan waktu ke salon, membeli pernak-pernik di pasar sampai kepada berwisata layaknya turis. 

Mendengarkan cerita suka duka mereka rasanya saya harus bersyukur. Bagaimana pun hidup di negeri sendiri lebih menyenangkan. Sama seperti teman-teman seperjuangan saya yang penempatan di luar jawa, walaupun alamnya elok, lingkungannya berbeda, namun tidaklah enak kalau sampai di habiskan bertahun-tahun.

*) Judul layaknya film Lola Amaria

Read Users' Comments (0)

Temaram senja di Gili Trawangan

Temaram senja ditemani Gunung Agung
Dalam hening aku kayuh kereta angin dengan kecepatan normal, aku terseok kesana kemari, medan yang kulalui tidaklah mudah, jalur berpasir lebih banyak daripada tanah. Suasana sore ini sesungguhnya memberikan kesan bahwa hidup tidaklah hanya sebuah kubikel, menelepon klien, menulis surat, merekam dan terpaksa tersenyum manis.

Disini, di ujung barat Nusa Tenggara, kutemukan sebuah kebahagiaan baru, titik keseimbangan baru dimana hamparan pasir putih jelas lebih nyaman daripada sebuah kubikel, dimana semilir angin jelas lebih menyegarkan dari air conditioner, dimana warna jingga senja lebih hidup daripada sebuah stabilo.

Senja di Gili Trawangan ku lalui dengan duduk diantara tiga balok kayu rapuh. Aku duduk menatap lurus ke arah mentari yang semakin condong. Sesekali kulirik Gunung Agung di pulau Bali yang berdiri tegah dengan gagahnya. Beberapa pemancing lokal masih asyik dengan kailnya mencoba peruntungannya. Anak-anak dengan tekun mencari kerang, ikan kecil dan udang yang terperangkap di bebatuan. 

Agak lama aku habiskan waktuku duduk diatas balok ini. Aku renungkan beberapa hal dalam kehidupanku. Biasanya aku hanya terlelap dalam rutinitas monoton dari pagi sampai pagi lagi tanpa ada esensi yang benar-benar membekas. Disini aku berkesempatan untuk mengevaluasi diri, apa dan bagaimana yang sudah maupun yang akan terjadi dan lakukan. Terkesan cemen memang, masa iya di tempat sunyi seperti ini kita bisa tepekur dan memikirkan masa depan? 

Pemancing lokal dan Mentari jingga
Nyatanya, di tempat tanpa beban seperti ini, aku bisa dengan mudah membuka lembaran-lembaran kehidupan yang sudah kulalui, ku telaah satu per satu, ku hitung setiap hal material yang sudah kulakukan. 

Hari ini, lebih dari setahun lalu aku berada di Gili Trawangan. Hari ini, aku berada pada puncak kegalauan, sudah lama sekali aku tidak berjalan sendirian menikmati waktu memikirkan sesuatu, entah apapun itu.

Dan malam ini, dimana segalanya seharusnya di pikirkan kembali, aku berada pada posisi, biarkan mengalir dahulu. Sungguh pun waktu sehari ada dua puluh empat jam, rasanya hanya beberapa menit aku melewatinya.

Read Users' Comments (0)

Terlena di Ubud, tersaput kabut di Penelokan

Dalam balutan kaos dan celana pendek saya mengemudi matic sewaan dari Kuta menuju Danau Batur. Perjalanan dimulai saat matahari tepat di ubun-ubun dan mengarah ke timur laut sesuai dengan peta. Jalanan Denpasar yang padat merayap menyambut saya dengan ramah, perilaku pengemudi yang lebih teratur di bandingkan Jabodetabek membuat keadaan menjadi lebih baik, tidak ada bunyi klakson apalagi teriakan memaki. Jalanan yang lurus, licin, rapi, dan teratur membawa saya di daerah Sukowati dimana saya melewati jejeran bus pariwisata, hal baik yang menanda adanya kegiatan di dalamnya yang pasti riuh, saya hanya tersenyum dan memacu matic lebih kencang dari sebelumnya, sebelum tergoda untuk singgah.

Selepas Sukowati yang riuh rendah, angin membawa saya menuju ke Ubud, perjalanan kali ini sangat menggairahkan, sepanjang jalan kita akan disapa oleh ratusan Pura, Galeri, dan kawasan persawahan maupun hutan rakyat. Sejuknya udara begitu menghipnotis saya, dan tanpa sadar rintik hujan turun ikut menyapa, mengucapkan selamat datang. Sesekali saya bersua dengan wisatawan yang memiliki caranya sendiri untuk menikmati keindahan Bali, bersepeda, bercerita, berdecak kagum, dan merenung.

Terasiring, Ubud
Ubud yang damai begitu melenakan, lansekap terasiring dari teras cafe semakin memberikan nuansa alam yang unik dan serba ada. Riuhnya pengunjung sembari menikmati hidangan begitu terinspirasi oleh eloknya perpaduan warna hijau dedaunan dan tanah kecokelatan, belum nampak pemandangan indah kuning dan hijau padi-padian, ditambah lagi objek petani lengkap dengan caping dan keranjang berisi rumput begitu menggoda pengunjung untuk mengabadikannya dengan berbagai gaya. 

Ubud memang damai, rasanya tak rela untuk pergi meninggalkannya. Bahkan kelamnya langit pun masih belum bisa membuat saya rela pergi meninggalkannya.

Saat rintik hujan semakin besar, saya pacu naik matic sewaan menuju ke sebuah lansekap lain. Saya begitu takjub dengan apa yang disajikan alam kali ini, bahkan ular pun tak mampu menyadarkan saya bagaimana begitu cantiknya lansekap ini. Bukti yang menggelitik adalah saya begitu fokus pada sebuah pertigaan, gunung cantik berwarna kehitaman dengan siluet danau di dasarnya di selimuti oleh kabut yang turun perlahan, saya sampai di kejar oleh sekelompok petugas karcis, saya tidak melihatnya.

Lansekap Penelokan
Pesona Penelokan ini sungguh tiada tara, saya teringat kampung halaman saya di Wonosobo. Tebalnya kabut semakin membuat mistis alam. Saya duduk merenung dan memandang semua pesona di depan mata. Lama saya tepekur di bibir jurang dan semakin merapatkan semua kulit. Kalau boleh menganalogikan, dalam suasana seperti saya berada disana, duduk sendiri mengevaluasi diri ditemani secangkir teh manis hangat, rasanya seakan lupa akan permasalahan dunia.

Read Users' Comments (0)

Hong Kong: Central to the Peak

Maps of Central to Peak Tram Terminus
Ada sebuah ungkapan begini "jangan bilang pernah ke Hong Kong kalau belum sampai di the Peak", mungkin ungkapan tersebut bisa jadi merupakan gambaran bagaimana suasana the Peak yang sebenarnya.

The Peak atau Victoria Peak atau secara geografi memiliki nama Mount Austin merupakan tempat tertinggi di Hong Kong Island. Kita bisa melihat Hong Kong di bawahnya dan Kowloon di seberang lautan, dan saat senja menjelang, suasana begitu ramai, kita bisa melihat saat matahari terbenam dan bagaimana lampu-lampu gedung di Hong Kong dan Kowloon akan menyala satu per satu, sampai pada acara Symphony of Lights yang digelar setiap hari mulai pukul 8 malam. 

Mudah saja kita menuju kesana. Saat saya sedang menyusuri Rute Central, secara tidak sengaja saya melihat Peak Tram Terminus karena ternyata letaknya bersinggungan dengan rute yang ada. Setelah lelah berjalan kaki dari SoHo menuju ke lokasi Peak Tram Terminus, saya membeli tiket pulang-balik menggunakan Peak Tram. Beberapa tips perjalanan menuju ke the Peak berbunyi "saat naik ke the Peak, usahakan apabila naik menggunakan Peak Tram, turun dengan bus, kalian akan di suguhi pemandangan yang benar-benar luar biasa", namun saya mengesampingkan hal tersebut, saya membeli tiket terusan dengan alasan praktis, saya akan sampai malam di the Peak dan malas lagi untuk mencari rute pulang.

Bruce Lee @Madame Tussaud
Seperti apa sih rasanya naik Tram? Apa beda Tram yang di jalur rata dengan Peak Tram? Tram yang saya naiki untuk menuju ke the Peak ini berwarna merah dengan gaya awal 1900an awalnya merupakan moda transportasi untuk membawa barang dan manusia dari dan menuju ke puncak, jadi Tram ini berusia lebih 100 tahun, luar biasa ya. 

Jalurnya mula-mula kemiringan 30 derajat dan semakin kita naik, kemiringan terus bertambah sampai mendekati 90 derajat, dengan pemandangan sebelah kiri kita adalah hutan sedangkan sebelah kanan jurang dimana kita bisa melihat laut di sekitar Kowloon dan Central. Di tengah-tengah perjalanan, tram akan benar-benar berhenti untuk memberi kita kesempatan melihat pemandangan di sebelah kanan.

Sesampainya di Terminus sajian pertama yang muncul adalah lorong yang berisi toko oleh-oleh khas, pintar sekali orang Hong Kong ini menggiring wisatawan untuk belanja. Kita benar-benar tidak bisa melewati jalan lain selain melewati lorong yang kanan kirinya melambai-lambai pernak pernik yang cantik.

Begitu naik ke level berikutnya, Musem Madam Tussaud akan memaksa kita untuk masuk, museum lilin ini ramai dengan pengunjung, terlebih lagi di area lobi dipasang patung lilin dengan fasilitas gratis seperti Bruce Lee dan Madonna. Kalau mau melihat lebih lagi, tinggal bayar tiket masuknya. Saya sendiri ogah masuk, mahal dan tidak memberikan pengalaman apapun.

The Peak famous vista over Hong Kong Island and beyond
Begitu pintu keluar gedung menuju area terrace The Peak angin langsung saja menyapa, mungkin mereka berkata "lihatlah, ini Hong Kong sekarang, modern sophisticated and traditional". Saya sampai sana masih agak sorean, saya masih sempat melihat awan-awan berarak cantik di atas dan di ufuk barat mulai berwarna kemerahan tanda senja mulai menyapa.

Area disini terdapat sejarah Hong Kong era perang opium sampai ke tangan Inggris. Dan yang tidak ketinggalan, disini terdapat ucapan cinta berwarna ungu dimana kita bisa menyematkan best wishes. Saya tentu saja melakukannya dan dengan sedikit malu minta untuk di foto kepada seseorang di sebelah saya. Semacam gembok cinta yang ada di belahan dunia lain.

Menjelang malam, kita akan sedikit terusir oleh penjaja foto yang memaksa meminta spot untuk orang yang rela membayar untuk pose yang memang ciamik. Posisinya benar-benar pas, mereka tahu benar tempatnya. Setelah lelah hanya duduk memandang kejauhan, dan ditemani oleh lampu-lampu gedung yang fantastik, saya segera bergeser menuju elevator saat orang-orang mulai berteriak, "oooh..." "aaaaahhhh" dan badan saya kemudian berbalik melihat apa yang terjadi yang ternyata merupakan pertunjukan Symphony of Lights.

Setelah 15 menit saya menonton pertunjukan itu, saya paksakan turun, di tram saya sempat tertidur dan ditertawakan karena mau terjatuh. Sesampainya di Terminus bawah, segera saja saya jalan cepat menuju stasiun MTR terdekat dan berebut kereta dengan yang lain menuju lokasi selanjutnya.

The Peak a minute before Symphony of Lights

Read Users' Comments (0)

Macau: Disaster

@Senado Square
Bayangkan sejenak saat kalian merencanakan sesuatu dengan sempurna kemudian karena sebab yang tidak bisa di lawan menjadi berantakan. Saya mengalaminya saat perjalanan ke Macau. Perjalanan ini saya rencanakan satu hari satu malam dari Hong Kong dan menyebrang pada pagi hari, apa daya, induk semang selama di Hong Kong menahan saya lebih lama dan menyarankan saya berangkat di sore hari.

Perjalanan ke Macau saya lalui dengan tidur di dalam ferry dan begitu turun di dermaga, ternyata Macau hujan deras, saya langsung panik, dengan minimnya informasi dan kurangnya transportasi publik membuat saya sedikit khawatir dan makin khawatir saat saya menunggu lebih dari dua jam antrian di Imigrasi. Puncaknya saya bingung dan mondar-mandir apakah akan menuju Venetian atau mencari penginapan terlebih dahulu, sungguh saya menyia-nyiakan waktu selama satu jam sebelum akhirnya saya memutuskan untuk mencari penginapan, hal yang kemudian saya sesali.

Macau pada saat hujan ternyata macet luar biasa, tidak beda dengan Jakarta, sampai warga lokal memilih turun dan berjalan kaki. Dalam bus saya memerhatikan mbak-mbak dengan logat medok jawa ngobrol di telepon selularnya. Saya beranikan untuk mengajak ngobrol begitu selesai, dan saya di tawarkan untuk mampir ke tempatnya sebelum nanti akan di antar ke penginapan yang saya cari, saya tolak dengan pertimbangan mbak-mbaknya genit dan saya takut di paksa tidur dengannya. Sungguh! Hal ini yang kemudian saya sesali juga beberapa jam berikutnya.

Setelah turun dari bus setelah tidak tahan macet saya berjalan menelusuri jalan demi jalan dan akhirnya menemukan Senado Square dimana banyak bangunan wisata. Saya memutuskan untuk menukarkan HKD ke Macau Picata dan kemudian saya sesali karena ternyata HKD lebih diterima daripada mata uang lokalnya, hal yang menurut saya aneh. Pantas saja mbak-mbak di penukaran uang memicingkan mata saat saya menukarkan mata uang tersebut. 

Saya telah berjalan lebih dari satu jam untuk sampai di Senado Square, dengan backpack yang melebihi berat badan saya dan hujan mengguyur, praktis saya capai lahir dan bathin, saat makan di sebuah McDonalds lebih parah lagi, saya mengajak ngobrol sepasang lesbian migran Indonesia yang sedang berlibur ke Macau dari tempat kerjanya di Hong Kong dan saya di ajak tidur, katanya sebagai selingan, dan lebih nggak tahu malunya, mereka menyebut saya pekerja migran yang kabur dari Korea dan sedang mencari kekasihnya yang menjadi waitress di Kasino Macau. Edan!!!!

Dyke issued di kalangan pekerja migran Indonesia di Hong Kong merupakan hal lumrah dan kalau ingin tahu secara gamblang, datanglah pada hari minggu pagi ke Victoria Park, maka kalian akan shock melihat mereka dengan biasa mencium kekasihnya di bangku taman. 

Kembali ke kecauan selama di Macau. Tidak berhenti pada hal di atas, saya bertanya kepada mbak-mbak penjaga Starbucks penginapan yang saya sebut dan di bantu alamat dalam aksara Pin Yin dan merekomendasikan taksi, saya keder, uang saya tipis, apa kabar kalau saya naik taksi yang setelah saya tanya kebanyakan mereka tidak menerima Picata tetapi hanya HKD, what the F%$#!

Akhirnya saya luntang lantung jalan kesana kemari, sesekali berhenti setelah menemukan spot menarik untuk mengambil gambar, ternyata battere kamera saya ngedrop, beruntung handphone saya masih nyala. Setelah lebih dari tiga jam berjalan saya menemukan tempat yang saya cari dan dengan senangnya diberi tahu oleh petugas penginapan kalau saya beruntung, langsung datang ke lokasi dan masih ada bed yang kosong. Mereka bercerita tentang minimnya penginapan murah di Macau dan sering memberikan area lobi sebagai tempat tidur cadangan para pelancong yang tidak kebagian bed. 

Saya mengobrol beberapa lama dengan ibu-ibu penjaga penginapan dan memutuskan untuk melihat Macau esok harinya dengan harapan akan cerah karena di luar hujan makin deras, ibu-ibu yang memiliki nama Fatima setelah menikah dengan orang Bangladesh tersebut sebenarnya menyarankan saya untuk malam itu juga berkeliling Macau karena Macau sangat kecil dan bisa ditempuh hanya berjalan kaki dalam beberapa jam, kalau saya melihat ke belakang saya sudah tiga jam berjalan, rasanya saya tak sanggup lagi. Saya memilih mandi dan tidur.

Saya bagun esok harinya dan mendapati protes keras dari seorang pelancong yang bilang bunyi ngorok saya yang terlampau kencang dan menganggunya sehingga ia harus ke bar untuk menghabiskan malam, oleh ibu-ibu penjaga penginapan dibilang hal tersebut wajar karena kebanyakan pelancong memang kelelahan dan sudah biasa mendengar bunyi dengkuran selama tidur. Puhhh!!!

Ternyata pagi itu masih saja hujan dan deras, harus bagaimana saya? Saya sedih karena pesawat saya jam 11 dan saat waktu menunjukan angka 9 hujan masih dengan ceria mengguyur. Akhirnya saya pamitan dan berjalan menuju tempat bis bandara. Lagi-lagi bencana datang karena sudah lebih dari setengah jam saya berjalan tidak mendapati bus, alih-alih mendapati antrian luar biasa panjang dan rapi dari penduduk lokal menuju sebuah taksi stand, saya kagum dengan  mereka, membandingkan dengan di Jakarta pasti sudah terjadi adu jotos dan mulut. 

Saya akhirnya memutuskan mencari taksi dan segera menuju bandara yang katanya berjarak 15 menit saja, apa daya hujan dan macet mendera, perjalanan lebih dari 30 menit dan saya sudah panik luar biasa, jam menunjukan angka 10 lewat, saat sampai di counter tiket saya di marahi habis-habisan oleh petugas, lain kali tidak boleh begini dan apa tidak tahu peraturan kalau harus ada satu jam sebelumnya. Jangan bandingkan dengan pelayanan ramah dan murah senyum yang kita harapkan, kebanyakan penerbangan murah di luar negeri akan memaki habis-habisan penumpang yang tidak sesuai prosedur, tidak ada sapaan ramah, alih-alih judes. Saya berlari sepanjang bandara yang tidak lebih besar dari Djuanda Surabaya dan melewati Imigrasi dengan lancar. Sesampainya di ruang tunggu ternyata pesawat delay karena cuaca, dengan menahan napas akhirnya saya berkeliling bandara sambil membeli oleh-oleh di Duty Free. 

Sungguh saya menyesal tidak bisa berkeliling Macau, suatu hari nanti saya akan kesana lagi.

Read Users' Comments (0)

Hong Kong: Rute Central

Peta Rute Central
Hong Kong bagi pejalan kaki merupakan salah satu surga, dan saya sendiri sungguh mengakuinya, selain Singapore tentunya. Perjalanan ke Hong Kong bulan Nopember 2011 kemarin selama seminggu saya habiskan kebanyakan dengan berjalan kaki.

Buku panduan saya terbitan National Geographic sungguh sangat membantu dalam memilih dan menentukan rute yang benar-benar menarik. Salah satunya untuk area Central saya dapatkan pengalaman jalan kaki yang menyenangkan. Saya memulai benar-benar sesuai panduan dari buku, no less. Perjalanan dimulai dari (1) Legislative Council building, tidak susah mencari gedung ini karena letaknya yang sungguh strategis. Di depan gedung ini terdapat taman yang diberi nama Statue Square dimana berdiri patung megah salah satu founder HSBC yang bernama Sir Thomas Jackson. Saat saya sampai disana, sebelumnya ternyata saya sudah melewati (2) HSBC headquarters dimana terdapat akses jalan di bagian bawahnya, menyebrang lewat jalur tram. Seperti gedung lainnya di Hong Kong yang sangat memanusiakan pejalan kaki dan tidak terlalu terkesan "wah" seperti gedung dan hotel di Jakarta, gedung ini dari jauh sangat mencolok dengan lambangnya. (3) I.M. Pei's Bank of China building yang berada di sebelah kirinya tidak saya perhatikan dari dekat mengingat saya harus berada pada jalur yang ada, yang pasti gedung ini sangat dan paling mencolok di antara jejeran gedung lainnya, bahkan saat kita berada di sisi Kowloon dan The Peak sekalipun, gedung ini merupakan salah satu Hong Kong's iconic skyline. 

(1) Legislative Council building & (2) HSBC headquarters


Look at (3) the Bank of China
Gedung selanjutnya yang akan kita lihat adalah (4) Court of Final Appeal yang bisa kita lewati dengan menandainya sebagai gedung kuno dengan dinding batu bata persis layaknya bagunan di Inggris. Jalan menuju gedung ini menanjak dengan kemiringan hampir 45 derajat dimana selanjutnya kita akan menemukan sebuah taman dimana disitu terletak (5) St. John's Cathedral, saat saya kesana disana sedang dilaksanakan acara pernikahan, dan tahukan kalian kalau gereja ini merupakan gereja anglikan tertua di asia? Di taman ini saya melihat acara pernikahan yang glamour, saya duduk di bangku taman sambil istirahat setelah jalan menanjak dan kemudian bertemu dengan beberapa pekerja migran asal Indonesia yang sedang off. 

Setelah istirahat sejenak dan ngobrol dengan mbak-mbak asal Ponorogo, Jawa Timur tersebut, saya melanjutkan perjalanan ke atas kemudian belok, nanjak lagi sodara-sodara, dan dalam perjalanan tersebut saya melihat gerbang menuju The Peak. Saya sudah ngiler duluan untuk naik ke sana tapi saya tahan, nanti bisa kembali setelah menyelesaikan rute ini.

Sir Thomas Jackson Statue @Statue Square
Setelah sempat bertanya beberapa kali dengan pejalan kaki disana, akhirnya ketemu juga (6) Foreign Correspondents' Club yang saya sendiri belum mengerti apa sebenarnya isi gedung ini. Jadi setelah mencari tahu, gedung ini semacam gedung yang berisi jejak rekam dan arsip Hong Kong dan China pada masa lalu. Langkah selanjutnya kita akan bertemu dengan gedung (7) Fringe Club, gedung yang berada di ujung Western District ini berisi hal-hal berbau seni kontemporer peninggalan Inggris dan bergaya Victorian. Saya sebenarnya tahu kalau gedung ini berada di ujung Western District dua hari kemudian saat saya menelusuri Rute Tram Hong Kong - Tsim Tsa Tsui bersama dua orang tetangga kampung saya yang sedang menjadi pekerja migran di sana, sama seperti foto diatas dimana saya dengan Seza, sedang menunjuk gedung Bank of China. 

Bodohnya saya memang, sepanjang jalan yang saya telusuri ini merupakan kawasan Soho yang sangat terkenal, atau Western District. Sungguh, saya tidak ngeh sama sekali. Gedung yang akan kita tandai selanjutnya yaitu berturut-turut (8) A colonaded courthouse yang lebih kecil bentuknya sehingga harus benar-benar teliti saat mencarinya. The (9) Central Police Station, saya jadi ingat film-film era Mafia Hong Kong saat melewatinya. Dan selanjutnya, inilah tempat dimana saya tidak bisa menemukannya, dengan sebutan (10) Good Spring Herbal Pharmacy, dan saya pasrah setelah beberapa kali bertanya dan tidak ada jawaban yang memadai.

Jalur Tram depan HSBC Quarters
Jalur ini sepenuhnya membuka mata saya, bayangkan sebuah kota yang sangat memanusiakan manusia, jalur pedestarian lebar, pepohonan dan taman di salah satu sisinya dan gedung yang dilewatinya memberi akses penuh kepada pejalan kaki, tidak menaruh curiga dan memberikan kesan out of reach seperti yang saya temukan di Jakarta. Hong Kong, Central District sungguh merupakan contoh baik dengan penataan dan perawatan bagunan kuno yang masih megah dan terawat baik.

Read Users' Comments (0)

Travel...

Saya masih ingat saat perjalanan pertama ke luar negeri. Bukan Singapore seperti 9 dari 10 orang Indonesia lakukan, tapi Taiwan. Kala itu setahun setelah ayah mangkat, kakak perempuan saya memberi penawaran kepada Ibu untuk berkunjung ke Tao Yuan, Taiwan, kota tempatnya bekerja. Ibu akhirnya mengajak saya kesana dengan alasan tidak berani sendiri bepergian ke luar negeri dengan bahasa dan budaya yang berbeda, tentu saja jawaban saya iya.

Persiapan pertama dengan terlebih dahulu membuat paspor karena kami belum memiliki. Sedikit bermasalah dengan lamanya antrian, padahal kami sudah menyewa jasa calo untuk mempercepat proses (oops!) akhirnya saya pulang ke Cibinong dengan mengantongi paspor dan langsung mengajukan ijin cuti kepada atasan. 

Persiapan lain yaitu-tunggu sebentar, saya tidak menyiapkan hal lain setelah itu karena kakak saya sudah menyewa jasa tenaga untuk mengatur kami bepergian kesana. Intinya kami tinggal tahu beres, ketemu dengan mas-mas yang disewa kakak saya juga pada saat di bandara. Jadi, perjalanan pertama saya tinggal nyaman duduk di kursi pesawat, yang buat saya cukup mengesankan karena terbiasa dengan pesawat murah. Kami naik Eva Airways dimana pesawatnya lebih besar dari pesawat yang biasa saya naiki, di dalamnya kami disediakan minuman sepuasnya, makanan dan video. Jujur saja, ini pertama kali saya membayangkan naik pesawat seperti Garuda Indonesia. 

Di dalam pesawat kami di kelilingi oleh para calon tenaga kerja dari Indonesia yang akan bekerja mengadu nasib disana. Ada yang pasang tampang jaim karena sepertinya ini bukan pertama kali buat mereka bepergian ke luar negeri, tetapi kebanyakan pasang tampang ndeso dan pecicilan dengan kaki diangkat ke kursi, sampai muntah di dalam pesawat, luar biasa memang.

Yehliu Geopark, Taiwan
Perjalanan dari Soekarno-Hatta Int'l Airport menuju ke Tao Yuan Int'l Airport kurang lebih 5 jam dengan perbedaan waktu 1 jam. Kami tiba dengan selamat dan dengan pasang muka keren kami melangkah mantab menuju pintu gerbang Taiwan, pemeriksaan imigrasi, voila! lancar jaya, saya melenggang masuk tanpa banyak pertanyaan. Ziip!!! saya resmi ke luar negeri sekarang.

Dalam beberapa kesempatan ngobrol dengan orang lain, mereka berpendapat bahwa pergi ke luar negeri itu mahal dan repot, benarkah? 

Pengalaman ke Taiwan membuat saya bertekad untuk bisa ke luar negeri di lain kesempatan. Sampai kesempatan tersebut datang kembali, teman saya mengajak pergi ke Singapore dengan low-budget tentunya.
National Museum of Singapore

Perjalanan ke Singapore bisa saya katakan sebagai perjalanan pertama saya dengan akomodasi dan persiapan sendiri. Setelah melihat modern-traditionalnya Taiwan, saya melihat Singapore yang hanya modern, kesan traditionalnya hanya bentuk dari bangunan kuno yang terawat baik. Ketagihan naik MRT dan jalan kaki tanpa terganggu dengan hal lain membuat saya berangan-angan mudah-mudahan Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia bisa meniru model tersebut.

Sampai pada tahun 2010 Ibu saya minta diajak ke Singapore setelah mendengar cerita dari banyak orang terutama pak-lik saya yang baru beberapa waktu mengunjungi negeri tersebut. Berbekal tiket promo murah meriah akhirnya kami pergi berdua lagi, saya bersama Ibu. 

Perjalanan kali ini membawa sebuah drama saat saya kembali dari Malaka, Malaysia. Pada saat pemeriksaan imigrasi, saya kena ciduk, Ibu saya menangis menunggu di luar tanpa kejelasan status saya, dan saya diberi banyak pertanyaan yang luar biasa berputar-putar. Memang kami menyempatkan diri ke Malaka, mengunjungi sebuah wilayah yang masuk ke dalam World Heritage Site, kota tua yang sangat menakjubkan, semua benda peninggalan lama terawat dengan baik. 

Breakfast, Discovery Accommodation, Malacca
Bulan Nopember 2011 saya mengunjungi Hong Kong dan Macau. Kota dengan paduan modern dan tradisional yang sangat menakjubkan membuat saya selalu ber-ooo setiap kali menemukan hal yang baru dan hampir terjadi dalam hitungan menit seperti ada seorang nenek terjatuh tanpa ada yang membantu, luar biasa bukan? lain lagi dengan caranya bilang "sorry" setiap bentuk sentuhan fisik maupun barang tanpa sengaja, menurut saya itu hal paling baik yang harus di contoh di Indonesia. Dan seperti hampir semua orang asia timur selalu bilang "xièxiè" setiap saat, saya mencoba untuk meniru hal baik tersebut.

Perjalanan ke Hong Kong juga membawa drama saat saya baru melangkah menuju meja imigrasi, saya kena gelandang dan wawancara. Beruntung saya bisa meyakinkan mereka, fyuh!!! hal ini yang kemudian membuat saya membatalkan kunjungan ke Shenzen, saya takut saat kembali dari daratan China kemudian dianggap imigran gelap.

Hong Kong & Kowloon

Senado Square, Macau














Menyenangkan memang menjelajahi negara lain, dengan budaya berbeda, sistem dan penduduk yang berbeda, saya sendiri memiliki pendapat bahwa pergi ke luar negeri, bertemu budaya dan orang baru, menambah wawasan dan membuka pikiran yang sebelumnya tidak terpikirkan. 

Oktober nanti saya berencana ke Penang, World Heritage lain selain Mellaca yang sudah saya kunjungi sebelumnya.

Read Users' Comments (0)

Semalam di Legian

Perjalanan kali ini masih tetap saya awali dengan was-was, bagaimana tidak, saya punya boss baru, saya baru mengajukan cuti pas hari H keberangkatan. Dengan tekad kuat saya beranikan masuk, berbicara dan meminta permohonan cuti saya di tandatangani. Oleh beliau, saya ditanya, "mau kemana?" dan saya jawab dengan berbohong, "mau mudik ke kampung halaman pak".

Terhitung dua kali saya menjalani perjalanan pada saat situasi yang tidak pas. Pertama tentunya saat ke Singapura bersama seorang kawan dimana saya juga mendapatkan surat mutasi pindah ke kantor baru. Itu terjadi bulan Mei tahun 2010, pada perjalanan kali ini, pada saat boss baru datang, saya ngelayap pergi, Juni 2011.

Rencana yang saya buat yaitu ke Denpasar sebagai tujuan awal, dan sesampainya disana baru saya akan membuat rencana lain, apakah ke pulau komodo, pulau impian saya, atau melaju ke lombok dengan tiga gilinya. Saya praktis tidak berbekal apapun selain badan dan tas.

Pesawat mendarat di Ngurah Rai International, ini kali pertama saya menginjakan kaki di pulau Dewata, pulau Bali. Suasananya sama seperti bandara kota lain di Indonesia, terkesan kumuh, sempit, dan kuno. Bandara Juanda Surabaya masih lebih bagus. Saya tidak berharap keadaan di Terminal Internationalnya juga demikian.

Blank! saya tidak punya tujuan. Saya lupa bawa peta pulau Bali. Saya lupa punya uang banyak (kalau yang ini memang selalu cekak). Sejenak saya melihat keadaan terminal kedatangan domestik, dan langsung menyambar beberapa brosur tentang wisata dan baiknya, selalu terdapat pulau Bali dengan sedikit gambarannya. Ini modal awal saya. 

Keluar dari terminal saya melipir ke beberapa loket pesawat menuju ke timur Indonesia. Setelah beberapa kali mampir dan bertanya, saya menyimpulkan, saya belum bisa mampir ke pulau Komodo kali ini, tiket pesawatnya mahal, saya belum mampu membelinya untuk sekarang. Saya terpaksa gigit jari dan segera mengambil ancang-ancang untuk ke Lombok saja. Segera saja saya langkahkan kaki keluar bandara, hasil mbah google tertulis kalau mau taksi atau ojek murah, keluarlah dari bandara. Yess!!! akhirnya saya dapatkan taksi dengan harga 20 ribu rupiah sampai di Kuta.

Dalam perjalanan menuju kuta, saya terlibat percakapan menarik dengan sopirnya. Memiliki nama sama dengan saya, dia menerangkan dimana bisa berwisata dan liburan di Bali, dimana bisa mendapatkan tempat makan yang tidak tercampur dengan babi. Sampai masalah budaya dan lingkungannya. Dibesarkan di lingkungan jawa, sopir tersebut walaupun sudah merantau di Bali sampai beranak-pinak, logat jawanya masih kental, jawa timuran. Satu hal yang dia tekankan, jangan takut di Bali, Bali adalah pulau dimana orang-orangnya tidak berani berbuat jahat dengan alasan keyakinan yang di anutnya, kalaupun ada, dapat dipastikan kalau orang tersebut perantau. Saya sampaikan beberapa rencana kecil saya, akhirnya sopir tersebut menurunkan saya di Poppies Lane II, saya di kasih arah untuk sampai di Legian dan menghabiskan waktu disana sampai pagi. Okay kakak! bekalnya sangat berguna.

Sampai di Poppies Lane II jam menunjukan angka 9, saya sempatkan mampir ke Pantai Kuta, suasana malam ini cukup cerah, bintang-bintang dan bulan setengah menemani, disamping deburan ombak, nyanyian camar, dan lenggak-lenggoknya muda-mudi. Saya sudah tulis keadaan disini di tulisan saya sebelumnya. Akhirnya saya bisa menapakan kaki di Pantai Kuta.

Satu jam lebih saya habiskan di pantai, tujuan selanjutnya yaitu Legian. Legian, nama yang sangat melegenda gara-gara bom yang meledak tahun 2002, dan 2005. Bom yang bikin Bali porak-poranda. Bom yang menjadikan istilah terorisme masuk top list di google. Tujuan pertama di Legian yaitu melihat tempat dimana dibangun tempat untuk mengenang para korban ledakan. Seperti ini suasananya saat malam, ramai!

Makin malam, Legian makin hidup. Pusat keramaian memang berada di Ground-Zero. Hampir semua turis yang datang (pasti untuk pertama kalinya) selalu menyempatkan mengambil gambar di area ini. Saya mengambil tempat di seberang area ini. Duduk. Saya mengamati apa saja yang orang lakukan. Tik tok tik tok. Dua jam berlalu sudah.

Sesekali saya lewati dengan berjalan ke sisi lain area ini. Saya kemudian mengambil duduk di samping seorang bapak yang kemudian saya tahu adalah seorang guru dari Banjarnegara yang sedang menemani para muridnya berdarma-wisata. Bapak guru bercerita kalau dia setiap tahun selalu ikut dalam tour sekolah, gratis atas biaya siswa, dia sudah hapal benar dengan Bali. Really? Hapalnya Kuta, Legian, GWK, Tanah Lot, Sanur, Pura Besakih, Pasar Sukowati. Typical. Apa nggak bosan pak guru? 

Sudah tengah malam di Legian, ternyata bukan cuma saya yang menghabiskan waktu disini, ada beberapa juga yang sambil membawa tentengan tas berdiam diri dan melihat sekeliling. Pemandangan yang makin ramai saat malam yaitu para bule yang mulai berdatangan masuk ke klub dan cafe, menenggak bir, berdansa dan bersenang-senang.

Ada rejeki juga dibalik orang-orang yang hobi menenggak bir ini, aku lihat beberapa ibu-ibu mengambil dan mengumpulkan bekas botol, baik air mineral, maupun bir. Bali memang berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Memang benar disini aman. Tidak ada jambret, copet, apalagi preman yang suka bikin mati kutu. Jam menunjukan angka 2, sudah dua gelas kopi saya habiskan. Sebentar lagi saya ke minimarket lagi untuk membeli gelas ke-tiga.

Saat jarum jam menunjukan angka 3, perlahan namun pasti, kemacetan di Legian makin parah, pengemudi jalan dengan tenang, pengendara motor melaju dengan lincah, tanpa ada klakson, pekerjaan galian tertutup seng dan pekerja bekerja dengan baik. Para tukang ojek dengan setia menawarkan jasa ojek kepada setiap turis yang lewat, terlebih dalam keadaan mabuk. Hal paling menarik menurut saya yaitu tingak para turis yang sudah mabuk, ada yang hobi membunyikan klakson mobil atau motor, kemudian ramai-ramai berteriak dan tertawa, seakan-akan itu merupakan hal yang luar biasa baginya. Atau pura-pura naik ojek, padahal tidak mau. Hal lain yang menurut saya justru menganggu yaitu saat ada yang memukul-mukul kap mobil, beberapa polisi langsung menegur tingkah turis yang sudah agak menganggu tersebut. 

Saat jarum menunjukan angka 4, saya ambil langkah kecil menuju ujung jalan Legian, suasana sudah mulai menurun, mereka, para turis maupun yang lainnya sudah mulai menurunkan aktifitas. Ada yang beranjak pulang. Ada yang teriak-teriak karena mabok. Ada yang lari putar-putar, dan lain sebagainya. 

Ujung jalan Legian ini tempat dimana saya akan melanjutkan perjalanan menuju Padang Bai, pelabuhan menuju pulau Lombok. Saya menunggu elf jurusan Tegal sesuai saran mbah google. Satu hal lagi, jalanan di Bali ternyata mulus dan bersih. Saat saya melewati pasar yang baru memulai aktifitas, saya melihat bagaimana mereka, penduduk, berpakaian adat bali, menuju pura untuk sembahyang, ada yang berjalan kaki, banyak juga yang mengendarai motor, demikian juga saat di pasar, mereka memasanag sesajen, dan berdoa sejenak.

Read Users' Comments (0)