Tampilkan postingan dengan label hobbies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hobbies. Tampilkan semua postingan

Menjadi host

Kegiatan rutin saya begitu sampai di kamar tercinta setelah seharian bekerja adalah membuka netbook dan langsung online. Hari Minggu malam saya mendapat kiriman email di salah satu situs pertemanan, couchsurfing. Isinya sebuah pertanyaan tentang restaurant vegetarian di Bogor oleh kakak-beradik Marcin dan Adam Furtak dari Polandia. Segera saja saya respon dan menawarkan diri untuk bertemu dan menjadi host sesama rekan CS untuk yang pertama kali. Mereka pun dengan senang hati menerima ajakan saya.

Hari selasa siang mereka sampai di Bogor lewat stasiun dan kita bertiga pun langsung berjalan menyusuri Bogor yang saat itu mendung. Kesan pertama saya melihat mereka berdua adalah, mereka sangat terbuka. Kakak-beradik ini sungguh rukun dan saling melengkapi. Marcin sang kakak berusia 33 tahun, mempunyai seorang anak laki-laki berusia 14, dan bekerja serta tinggal di London, dia tidak mempunyai rambut di kepala, alias plontos, dan memiliki jenggot yang hampir mirip wedhus serta badannya penuh tattoo. Lain halnya dengan Adam. Dia berusia 30 tahun, tinggal di Polandia, dan berambut gimbal layaknya vokalis P.O.D. Marcin dan Adam saling melengkapi, dua-duanya bisa sahut menyahut dengan saya sambil terus berjalan membicarakan hal-hal seperti kebiasaan kita masing-masing, bagaimana perbedaan antara Indonesia, UK, dan Poland. Dan, tentu saja mereka berdua vegetarian. Cool!!!

Target pertama mereka adalah Gong Factory di daerah Pancasan. Awalnya saya tidak tahu daerah itu, dan beruntungnya saya setelah menghubungi salah satu rekan di kantor, akhirnya di kasih tau rute menuju kesananya. Berhubung letaknya agak melenceng dari jalur jalan kami, akhirnya kami sepakat untuk ke Kebun Raya dulu, melewati Katedral, dan Gereja Zebaoth, sampai akhirnya mereka mencicipi Rujak Bebek yang menurut mereka enak! apalagi setelah melihat pisang tanduk yang panjang dan besar itu, mereka takjub! Kalau sudah begini saya sungguh bangga menjadi orang Indonesia. 

Kebun Raya Bogor bagi Adam yang suka fotografi bak surga, banyak sekali objek tumbuhan yang bisa ia dapat, bunga teratai adalah yang paling di sukai. Lain halnya dengan Marcin yang lebih serius, dia lebih banyak ngobrol dengan saya, sementara Adam mencari objek, dan berbicara banyak hal terutama pandangan-pandangannya tentang Indonesia. Dan itu positif. hal yang baik juga bukan, tentunya?

Setelah puas dan kelelahan berkeliling Kebun Raya, tujuan selanjutnya adalah Vihara Dhanagung, dan disana mereka, terutama Marcin yang ternyata lebih paham tentang Buddha, sedikit mengeluarkan "self-defence" saat ada salah satu pengurus yang tiba-tiba numpang ngobrol dengan gaya sengaknya, berkacak pinggang, dan sotoy. Saya memilih minggir, dan Marcin tanggap, untuk kemudian segera saja kami keluar dari tempat itu.

Saat melewati pasar, mereka sangat senang, dan kami mengadakan piknik kecil sepanjang pasar, berinteraksi dengan para pedagang, memperkenalkan beberapa buah dan sayuran endemik Indonesia, dan mereka membeli beberapa buah dan pisau, yang menurut mereka murah banget! ya iyalah, 1 Pound kan 15 rebuan, bagaimana tidak murah? 

Satu hal yang menjadi ganjalan mereka bahwa sangat sulit mendapatkan pekerjaan di Poland, sampai akhirnya Marcin pindah ke London demi bisa menghidupi anak semata wayangnya. Dan tentu saja topik agama, dimana mereka, seperti kebanyakan, tidak percaya agama, menurut mereka agama hanyalah label. Apapun perkataan mereka bukan? dan lebih jauh lagi mereka memberitahu saya bahwa kalangan gereja di Poland sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat sampai pemerintah yang akhirnya berujung pada ketidak tertarikan para pemuda terhadap gereja.

Tujuan terakhir akhirnya sampai di Gong Factory, dimana gong dan gamelan di buat. Sayangnya, perilaku para pengrajin sudah tahu uang, saya jadi kurang respek. Tetapi mereka sangat bangga bisa melihat proses pembuatan gong, karena sejak kecil Marcin sangat menyukainya.

Hal lain yang mereka suka dari Indonesia yaitu sifat ramahnya, oya? kemudian gemar menolong, dan kalau di foto tidak minta uang. Begi mereka yang sudah banyak berkeliling ke banyak negara, hanya Indonesia yang saat masyarakat setempat di foto tidak minta imbalan. Cukup di kasih liat hasil fotonya mereka sudah sangat senang. 

Bagaimana pun, acara menjadi host kali ini saya bilang lumayan, untuk seorang pemula seperti saya, dengan bahasa Inggris yang masih patah-patah, akhirnya saya bisa menjadi host untuk pertama kalinya. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih baik lagi.

Read Users' Comments (0)

the Amazing Race Asia season 4 has a winner

Nggak kerasa the Amazing Race Asia season 4 sudah selesai, dan duo Pinoy menang. Gak bisa di pungkiri memang, tim tersebut paling tangguh diantara yang lain. Season ini di ikuti oleh sepuluh tim yaitu Yani&Nadine: Indonesia; Natasha&Hussein: Indonesia; Allan&Wendy: HK; Ivan&Hilda: Malay; Ethan&Khairie: Malay; Michelle&Claire: Singapore; Richard&Richard: Philipines; Jess&Lani: Philipines; Dimple&Sunaina: India; Manas&Sahil: India.

Di awal musim, tim Indonesia nggak berdaya, kurang kompetitif, satu lagi terlalu percaya diri, hasilnya, Yani&Nadine adalah tim pertama yang tereliminasi, sial memang, mereka hanya terpaut sedikit dengan tim sebelumnya. Perjalanan dimulai di Malay. Hufft!!! kenapa mesti Malay sih? kenapa AXN kantornya juga disana sih? dan yang bikin kesel lagi, Malay di datangi untuk dua episode awal, Penang, dan Kota Kinabalu. 

Episode demi episode terus bergulir, duo Pinoy memang terlihat menonjol diantara yang lain, bagaimana tidak, mereka laki-laki, muda, dan sama-sama bugar, hanya satu kelemahan mereka, salah satu Richard ternyata takut ketinggian, selain itu tidak terlihat cacatnya. Kompak abizzz. Tim lain yang kuat adalah Ethan&Khairie, sama dengan duo Pinoy, mereka juga kompak, hanya saja Ethan banyak memiliki titik lemah. Bagaimana dengan tim lainnya? pendapat saya, Ivan&Hilda, saya sempat menjagokan mereka, sayang Hilda terlalu lembek, dia adalah titik terlemah dalam timnya. Yani&Nadine, typical drama-queen yang Indonesia banget, yang ngarteeesss abizzz. Allan&Wendy, mereka tidak kompak, dan saling menyalahkan, apalagi kalau sudah berantem dan egoisnya muncul, bubar jalan pokoknya. Sahil&Manas, mereka sama seperti duo Pinoy dan duo Malay, hanya saja bodoh, tidak mempunyai perhitungan, tidak efektif, slebor istilahnya. Sangat disayangkan memang, tim muda yang seharusnya bisa kompetitif justru sebaliknya. Lain halnya dengan Dimple&Sunaina yang begitu kompak, hanya nasib buruk yang akhirnya mengeliminasinya, tim ini penuh perhitungan dan saling mengerti satu dengan lainnya. Tim yang juga layak diacungi jempol adalah Jess&Lani, tim ini berturut-turut berada di posisi pertama dalam tiga tahap, hanya karena menghemat uang akhirnya mereka tereliminasi di Korea, Michelle&Claire menyebutnya "buat sewa sopir taksi mereka tak punya, tapi belanja baju dan lipgloss selalu tersedia". Jess& Lani juga beberapa kali menggunakan kecantikannya kepada petugas demi mendapatkan rute yang cepat, hal ini yang akhirnya membuat tim lain begitu benci terhadap mereka. Michelle&Claire sendiri adalah tipe yang tidak gampang menyerah, dan kompak selalu, dalam final begitu kelihatan kalau mereka adalah tim yang kuat, setelah ketinggalan sepuluh jam dari dua tim lainnya, mereka bisa menyusul dan berada di posisi ke dua, dan hanya berselisih beberapa menit dari sang juara. 

Stop!!!

Kita belum membahas tentang Natasha&Hussein. Tim Indonesia ini cukup membanggakan, dan berada di posisi ke tiga. Dalam awal kompetisi, mereka selalu berada dalam dua atau tiga terbawah, kurang pengukuran, kurang kompetitif, tidak efisien, menjadikan mereka tertinggal, namun sedikit demi sedikit mereka bangkit dan masuk ke final. Dalam final, mereka sudah unggul beberapa jam dari tim lainnya, hanya karena restoran buka siang akhirnya tersusul, apalagi saat harus meniti Gedung Marina Bay Sands, Hussein tidak melakukan hal tersebut dan kena penalti, bukan hal pertama mereka tidak menyelesaikan tugas, sungguh memalukan memang. Hussein disini sudah berumur, mungkin mendekati 60 tahun sehingga kesehatannya gampang terganggu, lain halnya dengan Natasha, yang meskipun terlihat cerdas, ia merupakan anak manja dan penakut akan banyak hal. Namun demikian, mereka berhasil berada di posisi ke tiga, dan sekali menjadi juara untuk mendapatkan hadiah liburan ke Maldives, menarik bukan?

Race kali ini sudah mendaki Malay dengan berjalan ke patung buddha terbesar di Penang dan berasyik masyuk dengan suku Dayak di Kota Kinabalunya, menikmati kesemarwutan Srilanka, mencoba bermain ski dan menjadi peternak di New Zealand, menjadi bagian dari Aborigin di Aussie, ikut Perang Kopat di Lombok, sampai harus menjadi monyet ala tarzan di Korea, dan terakhir berkeliling icon terbaru Singapore di Marina Bay Sands. Menarik, memikat, dan menggoda iman. Kapan saya ke sana?

Race Asia ini memang tidak bisa ditandingkan dengan Race World-wide, jauh sekali perbedaannya, mulai dari tim, Race Asia kebanyakan orang yang sudah memiliki nama di negaranya sendiri, paling tidak dalam hal kecil. Dalam tugas pun mereka lebih mudah, dan banyak sekali bantuan yang diberikan, intinya terlalu banyak toleransi. Kemudian, tentang rule the race, dimana di sini dikasih tau mana kesalahan dan penaltinya, tidak demikian di World-wide. Bisa jadi ini karena faktor hadiah, dan tentu saja sutradara dan keinginan produsernya. Saya menilai orang asia kurang kompetitif di banding bule, hehehe.

Bagaimana pun juga, saya tetap suka acara ini, tahun depan janjikan yang lebih menantang dan bagus. Saya tunggu.

Hasil selengkapnya:
1.   Richard&Richard
2.   Michelle&Claire
3.   Natasha&Hussein
4.   Jess&Lani
5.   Ethan&Khairie
6.   Dimple&Sunaine
7.   Ivan&Hilda
8.   Sahil&Manas
9.   Allan&Wendy
10. Yani&Nadine

Read Users' Comments (0)

Jiffest 2010: You Made This Happen!!!

Alhamdulilah, akhirnya gelaran jiffest selesai sudah. Hari-hari dimana saya harus mengejar kereta terakhir dan membawa motor saat pagi menjelang berakhir sudah. Senang, gembira, bangga, capek, sakit, ngantuk, campur aduk jadi satu. 

Alhamdulilah, acara tahunan yang sudah memasuki angka 12 ini jadi di gelar. Seperti diketahui sebelumnya, acara ini berada dalam kesulitan finansial yang berimbas pada batalnya acara. Tema "Save Jiffest" pun diadakan. Kegiatan donasi di selenggarakan demi keberlangsungan acara. Alhamdulilah, sebuah produk telepon selular menjadi sponsor dan acara ini akhirnya terselenggaranya. Pesan yang ada di intro film adalah "You Made This Happen" untuk para donatur yang sudah berkorban selama program Save Jiffest.

Sungguh menyedihkan memang, sebuah institusi yang bersebelahan visinya dengan acara ini tidak menjadi sponsor, mungkinkah alasan keterbatasan dana promosi menjadi jawabannya, saya sendiri tidak tahu. Hanya saja, menurut hemat saya, institusi tersebut terjun langsung ikut sebagai punggawa helatan ini. Alih-alih institusi yang mengusung merk "100% Cinta Indonesia" yang menjadi salah satu pendukungnya. Saya 1000% Cinta Mati sama Indonesia!

Acara ini akhirnya terselenggara, dan menurut saya tidak semenarik tahun sebelumnya. Hal ini pasti terjadi mengingat kronologi yang terjadi. Pertama, venue diadakan di Pacific Place, tempat yang menurut saya kurang menarik perhatian penonton lain, saya sendiri melihat PP sebagai tempat yang kurang nyaman untuk menghabiskan waktu, bisa saja sebagian calon penonton melihat hegemoni PP terlalu wah, lain lagi pendapat teman saya, mereka berpendapat, kenapa acara diselenggarakan di PP, karena mepet, sehingga venue di GI sudah terisi acara lain. Kedua, ternyata ada beberapa film yang sampai dengan jam penayangannya belum sampai di lokasi, kok bisa? saya sendiri tidak tahu jawabannya, kemungkinan masih karena mepetnya waktu yang tersedia. Ketiga, Jam tayang terlalu sore, acara di mulai jam 5 sore. Hal ini jelas mengurangi minat yang tidak bekerja 8-5 untuk menonton. Yang terakhir menurut saya, sebenarnya masih banyak hal lain, tapi susah menulisnya. Hal terakhir adalah filmnya sedikit, dan kurang merata baik dari segi genre maupun negara produksinya. 

Acara jiffest tahun ini saya membeli enam buah tiket, dengan hanya empat yang berhasil saya tonton, dua sisanya saya tepar. 

Film yang berhasil saya tonton adalah When We Leave, film yang membuat saya jengah dengan tingkah polah keluarga turki, benarkah kehidupan seperti itu ada disana, dimana pria adalah segalanya, dan wanita adalah miliknya. Menyusul kemudian adalah Son of Babylon, sungguh sial saya menonton yang satu ini, air mata saya bercucuran saat pemutaran berlangsung, saya ingat ibu saya di rumah, betapa cinta seorang ibu terhadap anaknya, cucunya, begitu sebaliknya, saya menangis saat sang cucu membasuh muka neneknya, saya menangis saat sang nenek mencium pintu masjid, saya menangis saat sang cucu kehilangan neneknya, apa yang akan dia lakukan? sungguh kejam akibat dari perang, kalau sudah demikian apa yang harus saya lakukan? Film ketiga adalah film documenter Armadillo, film yang tidak seharusnya saya tonton, karena saya membeli tiket Turk's Head, sehubungan dengan belum datangnya film di lokasi, maka terjadi perubahan rencana, film yang menurut saya ragu-ragu, apakah benar ini dokumenter? mengingat angle dan hasil tangkapan gambar menurut saya kurang dokumenter. Film terakhir adalah Scott Pilgrim, yeah!!! dengan jualan para pemain kelas dunia dan sudah banyak yang dikenal, film ini menjadi magnet utama acara jiffest ini. Film ini bergaya tidak biasa, bercerita tentang cinta dengan gaya komik yang khas. Sungguh aneh pada awalnya, dan mendapati keseluruhan cerita saling berurutan dengan gaya komik jepang, dijamin beda!

Akhirnya saya ucapkan selamat atas terselenggaranya acara ini, mudah-mudahan tahun depan bisa lebih baik lagi dari sekarang, buat saya sendiri harus lebih siap fisik dalam menikmati hari begadang sampai pagi di rumah pulang dari acara berlangsung.

Read Users' Comments (0)

Kala itu, kami bersama... bagian ke-1

Anyer, March 2007














Acara Kantor, End of 2009





Umum, early 2007





New Year's Camp, Cisaat 2010













Plaza Semanggi, Ramadhan 2009





my Lovely D105tax, 2004




Pangandaran, summer 2009






Guci Tegal, around 2006





Stick with Mr.Yulfian, around 2005





yeah!!! Lovely 2009

Read Users' Comments (0)

Riangnya bertubing di Cisaat

Acara ini kami lakukan saat pergantian tahun 2010 kemarin. Kami mengadakan acara kemah a la hotel bintang lima di Rakata Cisaat Sukabumi. Hal paling menarik kenapa aku begitu ngotot menyodorkan tempat ini adalah kami-atau lebih tepatnya aku, bisa mencoba tubing di sungai, berdiam diri naik diatas ban mobil mengikuti arus sungai yang tidak terlalu deras. Aku, tentu saja kelihatan yang paling antusias, aku melihat rekan yang lain diliputi kecemasan, mereka ada yang berpikir tidak bisa berenang, padahal aku juga sekedar bisa berenang a la kadarnya. Ada yang dasarnya memang penakut, memangnya aku pemberani ya? dan sebagainya. Tapi sesaat kemudian saat menyentuh air sungai, semua histeria.

Tubing, yang aku sendiri tidak paham maksudnya kenapa disebut seperti itu, secara sederhana yaitu menyusuri sebuah aliran sungai, berhubung kita ditaruh didalam sebuah ban tentu saja aliran sungai yang dipilih tidak boleh terlalu deras, tetapi banyak jeram sehingga kemungkinan untuk terbalik atau terjungkal dari ban menjadi lebih besar, justru disini seninya. Sama halnya dengan naik banana-boat, kalau tidak dijungkir-balikkan, gak dapet kesannya.

Awal dibriefing sedikit berkurang rasa antusiasku, pertama, aku tidak memakai sepatu dimana sepatu adalah perlengkapan nomor wahid yang wajib di pakai. Wajib diingat, kita menyusuri sungai dimana kemungkinan terkantuk batu besar dan kecil pasti ada, bisa dibayangkan kaki kita tidak terbungkus oleh sepatu. Namun setelah sedikit berdiplomasi, kami diperbolehkan naik walaupun sebagian tidak memakai sepatu. Setelah memakai alat keselamatan standar, versi mereka, versiku belum standar, karena siku belum terlindungi, gesekan dengan batu sangat dominan, selain kaki, siku adalah bagian lain yang sering bersinggungan dengan batu. Walaupun panitia bersikukuh bahwa siku seharusnya dimasukan ke dalam ban, kenyataannya kita terkadang lupa akan hal itu.

Terbilang 3 aku terjungkal dari ban itu. Sangat menyenangkan. Saat-saat paling menegangkan yaitu saat menemui jeram, seketika adrenalin naik, kaki ancang-ancang tambah naik akibat tidak memakai sepatu, dan tangan tanpa sadar ikutan naik, begitu jatuh, byur! Seketika lenyap, yang ada hanya ceria, tertawa, kok bisa jatuh?

Hal lain yang didapat adalah, bokongku dan beberapa dari yang lain mengalami hal yang sama, terkantuk batu di dasar sungai. Pinggang pun demikian, meski tidak dominan.

Setengah perjalanan kami diwajibkan untuk beristirahat dan disuguhi teh manis hangat, sungguh nikmat terasa, kala badan menggigil kedinginan, seduhan teh manis hangat sangat terasa bagai oase di gurun pasir.

Jarak total yang kami susuri hampir lima kilo. Dan begitu sampai di pemberhentian terakhir rasanya nagih. Pengen lagi dan lagi. Oya, aku mendapat oleh-oleh pacet 2 gigitan di kaki, dan rasanya gak enak.

Kami senang, teman-teman yang awalnya takut sekarang bergembira, walaupun ada yang kena gigit pacet, seperti aku, ada juga yang kehilangan sandalnya, secara keseluruhan kami-lebih tepatnya aku, ketagihan.

Read Users' Comments (0)

Sensasinya Taylor Swift

Namanya Taylor Swift. Awal tahu namanya saat jalan dengan salah seorang kawan, waktu itu kami ngobrol-ngobrol bagaimana ketinggalan jamannya kami karena kesibukan di kantor dan kuliah sampai tidak mengikuti perkembangan dunia musik, dan salah satu sorotannya adalah penyanyi muda Taylor Swift. Aku masih belum ngeh juga, sampai pada kesimpulan bahwa kami memang ketinggalan informasi dunia musik.
Selang beberapa minggu aku melihat video klipnya di [V], ia menarik perhatianku dalam klipnya You Belong with Me. Akhirnya satu per satu informasi tentangnya aku dapat. Kalau albumnya sudah 2 padahal umurnya masih belasan, hal yang biasa ya di dunia entertaintment amrik sono. Dari albumnya memang setelah di dengarkan cukup menggigit, bukan typical Teen Pop, ia masuk kategori Country Pop. Mulai dari lagu White Horse sampai yang paling aku suka You Belong with Me, semuanya enak didengarkan. Kesan Southern Musicnya hampir nggak ada sama sekali. Lucunya lagi, ternyata di belakang albumnya ia menulis arti dari album fearless itu sendiri. Cukup unik ya. 

Begini kutipannya : "To me, “FEARLESS” is not the absence of fear. It’s not being completely unafraid. To me, FEARLESS is having fears. FEARLESS is having doubts. Lots of them. To me, FEARLESS is living in spite of those things that scare you to death. FEARLESS is falling madly in love again, even though you’ve been hurt before. FEARLESS is walking into your freshmen year of high school at fifteen. FEARLESS is getting back up and fighting for what you want over and over again…even though every time you’ve tried before, you’ve lost. It’s FEARLESS to have faith that someday things will change. FEARLESS is having the courage to say goodbye to someone who only hurts you, even if you can’t breathe without them. I think it’s FEARLESS to fall for your best friend, even though he’s in love with someone else. And when someone apologizes to you enough times for things they’ll never stop doing, I think it’s FEARLESS to stop believing them. It’s FEARLESS to say “you’re NOT sorry”, and walk away. I think loving someone despite what people think is FEARLESS. I think allowing yourself to cry on the bathroom floor is FEARLESS. Letting go is FEARLESS. Then, moving on and being alright…That’s FEARLESS too. But no matter what love throws at you, you have to believe in it. You have to believe in love stories and prince charmings and happily ever after. That's why I write these songs. Because love is FEARLESS."

Yang pasti, ia bukan remaja kebanyakan, ia bisa menulis lagu, main gitar, nyanyi, pokoknya kumpul jadi satu. Terakhir, berkat album Fearless, ia menyabet 4 grammy termasuk kategori paling bergengsi, Album of the Year.

Read Users' Comments (0)

Mabok froyo

Ini terjadi Sabtu kemarin, setelah UAS hari pertama. Aku menyegarkan diri ke MargoCity tanpa tujuan jelas, sebenarnya karena masih jam 5, aku ogah pulang, terbiasa pulang setelah matahari terbenam, rasanya ada yang kurang kalau matahari masih ada dan aku sudah berada di rumah.

Awalnya kaki mau melangkah ke Gramedia, tetapi setelah di pikir ulang mending cari kudapan saja di Margo. (Kudapan) buku yang sudah dibeli masih banyak yang belum terbaca. Dengan langkah ringan, kaki langsung menuju pojokan, ke kedai tutti-frutti. Kedai yang menawarkan Frozen Yoghurt atau lebih dikenal dengan sebutan froyo ini menarik perhatianku, tadinya mau beli di J.Co saja, tetapi melihat porsi yang ditawarkan di tutti-frutti yang prasmanan semau kita, akhirnya pilihan jatuh kesana. Begitu ditawarkan porsinya, tanpa ba-bi-bu langsung aku ambil porsi big-size alias large. Pilih sana sini, ambil toping sana sini, kemudian di timbang, hasilnya 450 gram, gubrak!!! Masih belum sadar dengan kudapan yang barusan diambil, kalau jumlahnya cukup banyak untuk satu orang, aku melenggang menuju tempat duduk.

Sambil membaca koran, aku terus menyesap froyo itu, sudah hampir 30 menit aku duduk disitu, tapi kok ini froyo masih banyak ya? duh, baru ngerasa kalau porsi yang aku ambil banyak buangeett!! diselingi minum air putih, yang untungnya masih nyimpen di backpack, kalau tidak bisa penuh perutnya. Heran, kalau beli es krim di Haagen Dasz, duh belibet nulisnya, bener apa salah tuh, kita pasti disuguhi air putih dingin buat penutup, lha ini, masa kita harus beli air minum sendiri.

Mabok beneran sama yang namanya froyo saat itu, tapi dasar doyan, akhirnya habis juga, dan pengen nambah lagi, :) Lain kali kalau mau beli liat-liat situasi dulu ah, gara-gara main embat jadi aus giginya.

Read Users' Comments (0)

Tampilan Baru

Aku sibuk banget sejak pindah ke Seksi Pelayanan, rutinitas pagiku kacau, tidak ada lagi istilah baca koran selama jam kerja, menulis blog, apalagi belajar dan membaca buku. Tapi kalau dilihat, tampilan blog-ku baru. Kemarin aku beli buku panduannya di Gramedia. Yah, ini baru tahap awal soal tampilan, aku pengennya semua-muanya baik, enak dilihat -ya nggak sih?-. Jam segini saja aku masih di kantor, padahal besok kan aku mau UAS, apa kata dunia kalau begini, kapan belajarnya?

Stop complaining!!!!

Read Users' Comments (0)

Melankoli Kabut Sutera Ungu

Baru semalam aku menontonnya. Film lawas ini diputar ulang dalam rangka menyambut ulang tahun Jenny Rachman. Bertempat di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) Kuningan, selama dua hari sejak kemarin, film-film jempolan yang di bintangi oleh Jenny Rachman akan diputar ulang. Sebagai informasi, film ini memperoleh 5 Piala Citra di tahun 1980, wah, aku sendiri belum lahir pada waktu itu. Jenny Rachman meraih Piala Citra untuk kedua kali dalam film tersebut. Selain oleh Jenny Rachman, film ini juga dibintangi oleh idola kawula muda saat itu, Roy Marten, dan disutradarai oleh Sjuman Djaya. Saat film diputar semalam, berhubung temanya ulang tahun, maka selain pemain utama hadir, teman-teman, kerabat, dan handai taulan juga ikut menyaksikan acara tersebut. Justru, acara yang juga dibuka untuk umum dan gratis ini tidak banyak dimanfaatkan oleh orang lain, aku lihat hanya segelintir orang saja yang tidak termasuk kategori yang aku sebutkan diatas, termasuk aku.

Filmnya sendiri bercerita tentang keluarga muda yang sedang dalam masa indah-indahnya, Mira dan Hermanto. Jelas saja film ini mendapatkan rating 17 tahun ke-atas, soalnya ada adegan mandi dan beberapa yang sensual. Untuk tahun tersebut aku yakin luar biasa. Apalagi ada adegan lebay oleh Jenny Rachman saat sedang nonton layar tancep, meliuk-liuk bak ular, menggoda sekali.

Kembali ke alur cerita. Hermanto mendapatkan kecelakaan pesawat sehingga meninggal dunia, Mira pun mengurung diri. Apalagi pandangan orang terhadap janda pada waktu itu, masih lah sangat tidak manusiawi, sedikit saja bercakap dengan lelaki, langsung digunjingkan, begitu dan seterusnya. Hal itu membuat Mira makin menutup diri. Hermanto yang diperankan oleh Roy Marten baru lama aku kenali karena ia memakai kumis. Hingga saat adik dari Hermanto pulang dari Jerman, situasi berubah. Mungkin karena mirip, anak-anak Mira memanggilnya Papa. Papa Dimas. Mira dan Dimas terlibat situasi saling cinta tetapi susah untuk menyatukannya. Endingnya jelas saja Dimas akan menikah dengan Mira.

Secara umum, film ini buatku sedikit wah, pada jaman itu, ada adegan bertelepon, dan layar terbagi dua, hebat sekali. Akting para pemainnya memang ada yang bagus banget, dan ada yang biasa saja. Saat sang pembawa acara di awal acara berkata kalau kakak iparnya menangis saat menyaksikan film ini, aku sudah ancang-ancang untuk mengambil tisu di tas. Tetapi sampai akhir film, aku tidak menemukan adegan sentimentil yang membuatku menitikkan air mata. Mungkin karena aku tidak mengikuti sekali jalan cerita dan melarutkan dalam alur cerita tersebut. Selama pertunjukan aku banyak melihat sisi lain dalam film tersebut, seperti keadaan Jakarta pada tahun itu, jenis mobil, pergaulan anak muda, dan situasi lainnya.

Kalau di US sana ada bioskop yang khusus memutar film lama, kenapa di Indonesia belum ya? Lumayan juga dengan acara ini, jadi lebih tahu dan mengenal perfilman nasional.

Read Users' Comments (0)

Bubaran Jiffest

Jakarta International Film Festival atau biasa disingkat jiffest lepas sudah, acara yang digelar mulai tanggal 4 hingga 12 Desember 2009 kemarin berlangsung dengan sukses, hampir di setiap pemutaran filmnya ada antrian untuk masuk ke studionya. Di edisi yang ke-11 ini, yap! sudah selama itu, dan baru tahun ini aku ambil peran untuk menontonnya. Tahun-tahun sebelumnya entah berada dimana.


Dari puluhan film yang diputar, aku hanya bisa menonton 5, dari rencana 7 film. 2 film yang gagal ditonton adalah Cin(t)a dan Troubled Water, kedua film tersebut gagal karena rapat yang membuatku tidak bisa ngabur dari kantor.

Film pertama yang aku tonton adalah Max&Co. Hari minggu jam 7 malam. Sepulang kuliah dengan hujan yang mendera jalanan dari Depok sampai lokasi, aku naik motor dengan kecepatan 40-50 km/jam. Sampai di lokasi sudah terlambat 15 menit, dengan badan basah kuyup dan menjadi perhatian pengunjung lain karena lokasi di Grand Indonesia kering tanpa kucuran hujan. Film animasi yang bercerita tentang Max yang mencari ayahnya ke kota ini tidak terlalu menarik buatku, standar saja. Memang dari segi animasi dan cerita berbeda dari yang lain, tetapi overal biasa menurutku.


Film ke-2 yang aku tonton adalah Coco Avant Chanel, film Perancis yang dibintangi oleh Audrey Toutou ini bercerita tentang desainer Chanel semasa kecil sampai ia memiliki label sendiri. Buatku film ini bagus. Film ini bercerita bagaimana semasa kecil Chanel yang akhirnya dipanggil Coco semasa bekerja di tempat hiburan bersama adiknya, tinggal di panti asuhan, ditinggalkan oleh ayahnya. Pun selama ia mengenal lelaki, baik sebagai teman, ataupun pacar, ia selalu berada di pihak yang tidak diuntungkan. Oleh karena itu, ia berusaha mendobrak semua tatanan itu, bahkan sampai ke penampilan, dimana kala itu perempuan selalu identik dengan gaun berwarna putih dengan topi bak cendrawasih. Ia kemudian merancang baju agar perempuan tampil elegan seperti yang biasa kita lihat sekarang ini.

Film ke-3 adalah Home, film Swiss ini bercerita bagaimana sebuah keluarga yang tinggal di pinggiran jalan tol berubah, sejak jalan tersebut belum diresmikan, sampai dengan akhirnya jalan tersebut dipakai. Film ini menggambarkan bagaimana (mungkin) globalisasi dan pembangunan bisa merubah sifat orang-orang yang tinggal dekat dengan hal tersebut. Dari keluarga yang harmonis kemudian menjadi keluarga yang saling menyalahkan dan berpegang pada keyakinan masing-masing akan keinginan untuk tinggal dan pergi dari tempat tersebut. Hal gila yang terjadi disini adalah sang ayah akhirnya memutuskan untuk menutup semua rumahnya dengan batako tanpa celah udara sedikitpun dan mengurung semua penghuni di dalamnya dengan terlebih dahulu memberikan obat penenang kepada anggota keluarganya.


Hal yang sedikit membuat aku bertanya-tanya adalah film dokumenter tentang Muhammad Asad, seorang yahudi kelahiran ukraina yang akhirnya hijrah ke islam. Ia menulis buku A Road to Mecca yang menurut cerita orang-orang dalam film tersebut cukup memberi nilai, ia berusaha mereformasi islam yang ada sekarang, sebagai info, aku tidak bisa berkomentar banyak karena belum membaca bukunya. Setelah nonton film ini, aku terlibat diskusi yang menarik dengan Tepoy, yang berujung pada kebingungan karena belum mengetahui dan membaca buku tersebut.

Film pamungkas yang aku tonton adalah Love & Rage, film ini sungguh, sangat menggambarkan bagaimana emosi seseorang bisa sangat berbahaya kalau tidak bisa dikendalikan. Sesuai judulnya, film ini bercerita diwal tentang cinta, dan di paruh terakhir tentang amarah. Yang aku ingat dari film ini adalah adegan si aktor utama saat memukul Pierre, darah Pierre sampai muncrat di wajah si aktor tersebut. Memang adegan tersebut hanya terlihat dari sisi muka aktor, tetap saja membuat bulu kuduk berdiri. Sadis!

Selepas festival ini, mudah-mudahan nantinya aku masih bisa berpartisipasi untuk menyaksikan dan ikut serta dalam festival lain seperti Sinema Perancis, dan lainnya.

Read Users' Comments (0)

Marley & Me

Baru semalam aku melihat film ini, Marley & Me, film yang diadaptasi dari novel perjalanan hidup John Grogan bersama anjing labrador yang diberi nama Marley. Film ini dibintangi oleh Owen Wilson, dan Jennifer Aniston. Sebelum diputuskan untuk dibuatkan film, novel yang memang dibuat Grogan selama hidup bersama the world's dog, Marley sudah laris manis di pasaran. Kecenderungan sekarang, dibelahan bumi mana pun, kalau ada novel atau buku laris, ujung-ujungnya dibuat film.

Cerita dimulai ketika Grogan dan istrinya memutuskan pindah ke Florida karena mendapatkan tawaran kerja di sebuah perusahaan surat kabar. Grogan sendiri adalah reporter, dan istrinya juga seorang jurnalis. Berbekal mobil butut, keluarga muda ini mencari rumah dan beradaptasi di lingkungan barunya. Beberapa tahun menikah, ternyata mereka belum dikaruniai anak, atas nasihat Sebastian, teman akrab John, akhirnya Grogan memutuskan memberikan hadiah kepada istrinya seekor clearence puppy seharga USD 200.

Puppy itu ternyata berbeda dengan yang lain, ia sangat aktif, bahkan dibilang luar biasa aktif. Makan melebihi kapasitas normal seekor anak anjing, dan tidak pernah mau diam. Ia diberi nama Marley saat di mobil tiba-tiba Grogan mendengarkan lagu Bob Marley. Marley punya tabiat yang sangat buruk untuk seekor anjing peliharaan, ia suka makan perabotan, buang kotoran semaunya, dan suka makan apapun yang ada di dekatnya. Bahkan saat diajak ke pelatihan anjing, sang pawang menyerah. Hanya satu kelemahan Marley, petir yang menggelegar, ia akan sangat ketakutan.

Dua tahun setelah tinggal bersama Marley, Jen, akhirnya hamil, sayangnya sang jabang bayi meninggal dalam kandungan. Mereka memutuskan untuk berlibur ke pedesaan di Irlandia. Hasilnya Jen kembali hamil. Sampai anak ke-dua lahir, hubungan mereka baik-baik saja, sampai akhirnya Jen merasa kelelahan mengurus tiga anak, Patrick, Connor, dan Colleen. Jen menganggap Marley sudah sangat keterlaluan dan ingin segera menyingkirkannya.

Bagiku film ini menjadi oase atas film yang selama ini aku tonton, menyegarkan, dari 10 film di rak 8 diantaranya adalah film drama kualitas oscar yang bagi sebagian orang sangat membosankan, teman kuliahku sampai bilang "film yang kamu tonton kan aneh" what the...!

Film ini menggambarkan bagaimana suka dan duka hidup dengan anjing, mulai dari kecil sampai anjing tersebut menemui ajal. Bagaimana seekor anjing bisa sangat dekat sebuah keluarga. Saat meninggalnya pun diadakan pemakaman dengan setiap keluarga memberikan ucapan terakhir.

Read Users' Comments (0)

the Amazing Race


The Amazing Race, is host by Phil Keoghan, its now on 15th seasons. Basically, I love competition, I love being compete by others. It runs at AXN every monday night at 7 p.m WIB, and rerun on tuesday. Why do I love this show? first of all, I love competition; second of all, they're compete by explore the city around the world. It shows many beautiful place whole world, from reykjavik to south island of New Zealand; and from canary islands to pasific's.

We served by any local tradition, how to play volley at Estonia; until match the number of wire at crowded of India. How they're jumped from CT Tower Macau until directed duck to the farm at Vietnam. For me, it just great, they're compete by other, moving fast to be number one and not to be eliminate. The adrenalin truly punching, and I think it's very exhausting. But, after all, if you get the peak position, you got beautiful prize, most of all are spend holiday at randomly place around the world. Wow!! They're fighting for one million dollar, how big is it, isn't it?

Last year, just like any other programs, they made asian edition, its called The Amazing Race Asia, but I don't know this year, looks never happened. Again, I always complaining, why, they're hard to visit Indonesia. They went to Malay, Singapore, Vietnam, Thailand, then Aussie, but to Indonesia? hmmm, one in a million. Picture on the right are members of 15th The Amazing Race, and now they're on heading to finale three. Brian & Ericka, married; Megan & Cheyne, dating; Sam & Dan, brother; and Big Easy & I don't know the nick name is, they're professional athlete.

Its produced by the Jerry Bruckheimer, one of the top director on Hollywood I can tell. In Asia, its hosted by Allan Wu, but, he's less charming than Phil Keoghan and indeed, lack of creativity, I thought he just shows his body moved. Hahahaha....

Read Users' Comments (0)

Mario Teguh Golden Ways

Here, I'm talking about my fave show at sunday night. Its called Mario Teguh Golden Ways. Began on last October 2009, I found something heavenly on that show, at last. In the early show came up, I don't give any attention at all, I just feel, people always have a feeling to choose everything by them self. Later on, many people talk about it, they said that its fascinating and very inspiratif. Then, I tried to stay tuned on that show, and yes, its very fascinating, diggin' on many scene that people always have to forget.

I remembered when Mario said that people, especially leader, having the wrong way while they're punching other people, then deep in their heart that they're knowing that its very wrong but never to way back into the right way, he said with his body's shakin' and his finger nervously moved, and his face showed very angry. I just blink twice and felt the same way, I know that he's good person anyway.

I always remind my mom to not missed that show, she needs great words and motivator. For me, by this show, by his great words and how he's forcing people to look at deep on them self, that was very nice. Eligible to add something that I was deny, to be frank, why do I feel very sorry everytime he talks about people who hating them self, who denying, not acceptable each way in particular. I realize, he wakes me up.

Read Users' Comments (0)

Saturday fun (by accident)

I lied. I said that I'm having class at noon. Honestly, I just want to take a walk, hunting some things by myself. It happens after we went to hospital to visit the boss. He's sick, quite bad. We separated then, I together with my colleage heading to Kota, again, we split it up. So here I am.

After having short lunch at station, by train I'm heading to Pasar Senen, I went to Pabona bookstore do some things for the college. Its disturb by rain because I'm wearing fabric-half-paper-shoes, they're fragile by water, it's not worthy if we look at the price, after all. Had a little explore the area, then as quick as I can, chasing the bus to the next destination, Ambassador.

Lucky for me, there's no traffic, but once again, the rain gone wild. While I'm sitting on the transfer vehicle to the place, suddenly I met my friend, Tepoy. Had someting to chat then we arrived at the mal. Did something that I have plan and we finally met Komang and Ayu. They're already had plan with Tepoy did something fun after the exam. Then, I become guest without invitation.

Suddenly, my plan's change, I postponed right through the station for going home, I followed them. We're headed to the next destination, the Plaza Semanggi's. We gathered with Eka and Galih, then become a haha-hihi activities, something rare for me recently. We're having early dinner together while haha-hihi, discussed about things, about those, everything. And of course the movie.

Ayu driven us to the next chapter of haha-hihi activities, karaoke thing. And voila... we did it. Something funny there, we undirectly split by three scene, Dangdut; Jazz and Soul; and Pop. Galih was terribly likes Dangdut very much, its looks by song he was sung. Tepoy, the star here, he's having soul sensation on his voice, quite through with the original's singer. I, who's having voice like break-odd-can just become the pop loving, together with Eka, which is together with Ayu, quite simiarly having an unigue vocal. Afterall, Komang become the buble's cover after sung the song Haven't Met You Yet.

I thought, if I don't met them, I just pouring rain at home watched some DVD's with a cup of tea. Well, thank you guys for having me a great saturday. I arrived at home by 11 p.m by night train, something that finally convince me not to hesitate if I spend time at downtown later.

Read Users' Comments (0)

Jona, kelinci malangku

Aku membelinya di pasar minggu pagi pemda Cibinong yang luar biasa ramai. Itu kali pertama aku jalan-jalan kesana. Waktu itu aku pergi dengan Donny. Dengannya aku diperkenalkan suasana bagaimana keramaian pasar pagi yang ada di hari minggu tersebut.



Aku tertarik dengannya. Ia lucu. Sedikit bertanya bagaimana cara merawat seekor kelinci, akhirnya aku membelinya, sebuah keputusan yang sangat singkat prosesnya.



Ia aku beli sepasang dengan kelinci betina yang kuberi nama Lana. Sedikit cerita tentang Jona. Ia kubeli saat berumur 3 bulan, dengan gambar disamping yang lincah, susah buatku mengambil fotonya dari depan. Rumah kontrakan lamaku yang lumayan lega menjadi tempat ia berlari-lari, Sabtu dan Minggu kalau cuaca sedang bagus, aku biarkan ia di taman depan, sambil terus memerhatikannya, jangan sampai lari ke jalan di depan. Sesekali aku kejar ia.

Aku membelinya saat musim hujan, dan karena ketololanku, ia jadi sakit. Aku hanya menyediakan kain di kandangnya supaya hangat, dan sayuran sebagai makanannya, aku taruh di kulkas, hal yang menurut yang lebih berpengalaman haram dilakukan. Aku tidak tahu, kurang lebih hanya satu bulan ia bersamaku, menemani hari-hariku, menambah pekerjaanku karena kotorannya harus dibersihkan tiap hari.

Suatu malam ada bunyi ngiiiik lama, dan beberapa kali berulang, aku kemudian bangun mendapati Jona-ku sedang sekarat, aku pegangin tubuhnya, aku belai. Ia menghembuskan nafas terakhirnya beberapa menit kemudian, aku menguburnya di taman depan kontrakan lamaku. Aku sedih. Ia menghembuskan nafas terakhir dua hari sejak Lana-ku pun pergi, dengan kasus yang sama, yang aku pikir, mereka kedinginan.

Sampai saat ini aku masih menyukai kelinci, pernah kepikiran untuk membelinya lagi, hanya saja aku takut kejadian berulang, apalagi tempatku yang sekarang sempit, mana sempat nantinya buat mereka berlari-lari dengan riang.

Ada satu hal menarik sebenarnya saat kejadian Jona dan Lana tiada, seorang kawan tiba-tiba mengirimkanku satu pasang boneka puppy lucu, memang bukan babitty, tetap saja kuhargai ketulusannya. Sampai saat ini, sepasang puppy itu masih berada di kamarku, mungkin sampai salah satu keponakanku akan mengambil paksa.

Buat Jona dan Lana, I miss you....

Read Users' Comments (0)

1st anniversary

Happy 1st Anniversary....

Today, last year ago, I started writing here. By now, couple stories have written and still counting. Actually, thousand minds are tick-tock ask to run out, but my fingers don't let it go. Seem like a huge wall blocking in my mind everytime I have to tell my story here. 

In my 1st anniversary, I have some wishes. Hope that start today, everyday, or once in two days I have something to write here. Just make some unimportant issue, scream-out, or fucking 'bout something happen accidentally. Hope that somebody will help out to make something different 'bout this place, something unique and interesting, honestly, I don't have any expert for that.

There's might be a cake in particular, but I don't have one. I just enjoy my jasmine tea and bars, with David Foster in the stereo, they're color me celebrating the 1st anniversary.

Read Users' Comments (0)

Ada apa dengan Russia?

Perhelatan US Open 2009 belumlah usai, para petenis baik di sektor putra maupun putri berebut untuk menjadi juara. Tahun ini unggulan pertama jatuh pada Federer dan Safina. Keduanya berhak menyandang hal tersebut karena memang saat undian dilakukan mereka berada pada posisi nomor 1.

Ada hal menarik disini, dimana Serena beberapa kali memberikan pernyataan pedas yang ditujukan kepada Safina, kurang lebihnya begini, “Saya lebih pantas menjadi petenis terbaik, tahun ini saya dapat dua gelar grand slam, sedangkan dia satu pun belum”. Well, sebetulnya kuranglah etis seorang petenis sampai berkata demikian, mari kita lihat bagaimana sistem ranking disusun baik di ATP maupun WTA. Poin setiap pemain dihitung sesuai keikutsertaan pada turnamen dan yang paling penting adalah konsistensi antara turnamen tahun lalu dan tahun berjalan, apabila tidak mau kehilangan poin, maka harus bertanding, dan mempertahankan poin yang didapat tahun lalu, apabila tidak, hilang atau berkuranglah poin yang ada.

Melihat hal tersebut, selama tahun ini memang Safina lebih konsisten daripada Serena, bisa kita lihat pada hasil yang di peroleh, benar memang, Serena dapat dua gelar grand slam tahun ini, tetapi untuk turnamen kelas master 1000, atau 500 apa yang ia dapat? Jadi, jelas lah bahwa ranking dan poin di dapat atas kerja keras dan konsistensi di lapangan, bukan omong besar dan membanggakan diri dengan apa yang sudah di dapat.

Baiklah, mari kita tinggalkan omong kosong diatas, jelas melenceng dari judul diatas. Disini saya akan sedikit menulis tentang apa yang terjadi dengan putri-putri Russia sehingga banyak mengalami kegagalan?

Seperti kita tahun, dalam empat tahun terakhir petenis putri Russia begitu mendominasi jagat tenis WTA. Sebutlah nama seperti Myskina; Dementieva; Kuznetsova; Sharapova; Zvonareva; Petrova; Chakvetadze; Safina; dan masih banyak nama lain. Mereka begitu perkasa mendominasi berbagai kejuaraan tenis baik level Master maupun Grand Slam. Tetapi apa yang terjadi dengan US Open tahun ini?

Hari pertama masih menyisakan banyak unggulan dimana nama seperti Dushevina saja yang tidak bisa maju ke babak selanjutnya. Kemudian menyusul kegagalan petenis lain seperti Chakvetadze dan Kirilenko. Dan, salah satu kejutan yang terjadi adalah favourite juara tahun ini, Elena Dementieva, secara mengejutkan takluk di tangan Melanie Oudin, petenis muda belia amrik yang masih berusia 17 tahun.

Yah, Dementieva tidak berhasil menjaga permainannya saat unggul di set penentuan sehingga akhirnya kalah. Oudin yang sempat meringis-ringis karena kakinya yang tidak begitu fit, memberikan perlawanan yang luar biasa. Petenis muda tersebut mengalahkan salah satu favourite juara disini dimana ia mengumpulkan jumlah poin terbanyak dari turnamen pemanasan sebelumnya, dan apabila Dementieva menjadi juara disini, ia akan mendapat bonus tambahan sebanyak USD1000.

Gagalnya Dementieva membuat Oudin menjadi perhatian baru dalam event ini, memasuki babak selanjutnya ia harus berhadapan dengan Sharapova yang baru sembuh dari cidera yang dideritanya selama lebih dari delapan bulan. Permainan Sharapova cukup meyakinkan pada set awal, hal tersebut berubah saat lengan kanannya menjadi bermasalah lagi dan sempat mendapat perawatan medis. Ia membukukan 21 kali double fault, hal yang sungguh tidak meyakinkan dan 63 unforced error, cukup memalukan untuk petenis sekaliber dia. Pada saat berlangsung pertandingan tersebut, sebenarnya kans Sharapova menang sangatlah besar, dalam setiap reli, pasti ia menangi, hanya saja factor yang saya sebutkan diatas membuat Oudin cukup bergairah tanpa memeras banyak keringat, bagaimana tidak, kalau dihitung-hitung, Oudin mendapat 5 poin gratis dari Sharapova.

Hal yang sama terjadi pada Zvonareva, petenis ini sudah unggul di set kedua namun sayangnya ia menyiakan kesempatan yang ada dan beralih kalah pada set ketiga tanpa memenangi satu game pun melawan Panetta.

Praktis dari belasan petenis putri Russia yang bertanding, tersisa hanya dua yaitu Petrova yang akan bertanding melawan pembunuh raksasa Melanie Oudin, dan Svetlana Kuznetsova. Saya tidak mengerti apa yang terjadi pada mereka, apakah eranya sudah mulai mengendur? Lihat saja di jajaran Top 10 dunia, tersisa 4 petenis dari Russia yang ada disana, hal tersebut menjadi yang pertama selama hampir 3 tahun terakhir dimana minimal ada 5 pemain Russia pada posisi tersebut, bahkan pernah ada 7 pemain pada saat tahun 2007 akhir yaitu Sharapova; Kuznetsova; Petrova; Dementieva; Chakvetadze; Safina; dan Zvonareva di posisi Top 10.

Well, saya tidak akan membahas detail untuk sekarang, mungkin nanti lain waktu setelah gelaran US Open selesai akan dikupas kembali hal tersebut. Sambil menunggu siapa kira-kira yang akan menjadi juara di Flushing Meadows tahun ini mari kita berhitung kira-kira faktor apa sajakah yang membuat petenis menjadi tak bertenaga saat bertanding?

Read Users' Comments (0)